Kalau tak pernah ada usapan sayang di waktu kecil, mungkin hari ini kita tak punya kekuatan jiwa untuk melangkah. Kalau tak ada kecupan lembutmu, mungkin tak akan lahir kesejukan hati untuk menata hidup dengan lebih baik. Tulang-tulang kita akan rapuh, jiwa kita tak mampu berdiri kokoh menghadapi tantangan hidup, dan dada kita sempit oleh sesaknya persoalan. Ibu .. ya .. beliaulah sosok penuh cinta dalam hidup kita, yang ikhlas berjaga di waktu malam ketika kita merengek kehausan. Setetes air susu Ibu mampu menjadi karunia penentram jiwa dan penguat tubuh kita hingga saat ini. Ibu adalah sosok luar biasa, sungguh sangat luar biasa.
Jiwa dan raga ini
terlahir dalam keluarga kecil yang sederhana. Bapakku adalah seorang sopir
angkot, lebih tepatnya angkudes ( Angkutan Pedesaan ) karena jarak yang
ditempuh untuk satu kali perjalanan tidaklah jauh, trayeknya pun hanya antar
pedesaan. Sedangkan Ibuku sebenarnya hanya Ibu rumah tangga biasa, tapi untuk
menopang kehidupan keluarga kami, Ibuku berjualan nasi rames yang buka praktek
hanya 5 hari sekali. Mungkin ada yang bertanya-tanya mengapa hanya 5 hari
sekali? jawabannya adalah karena setiap 5 hari sekali di depan rumah kami ada
pasar, orang menyebutnya “ Pasar Wage ”. Mamahku ( seperti itulah panggilan
sayangku untuk Ibuku ) berjualan nasi rames di depan rumah. Dengan warung yang sederhana
dan perabotan yang seadanya. Tapi kami sekeluarga berusaha untuk tidak mengeluh
atas keadaan tersebut. Biarpun kata orang hidup berkekurangan, tapi kami
menganggap hidup kami berkecukupan. Begitulah kedua orang tuaku mengajarkanku
untuk senantiasa bersyukur atas rezeki-Nya. Karena terkadang ada saja rezeki
yang Allah berikan pada kami jika diiringi dengan DUIT (Do’a, Usaha, Ikhlas,
Tawakal ).
Ada sepenggal
kisah dari hidupku yang semoga menginspirasi. Tidak ada maksud menggurui,
sekedar berbagi pengalaman dan pelajaran hidup.
Tahun 2010 merupakan tahun yang tidak akan pernah
aku lupakan, tahun yang rasanya seperti gado-gado. Sedih, kecewa, bingung, dilematis,
hancur, mengharukan, dan yang lainnya campur aduk jadi satu lengkap dengan
bumbu-bumbu air mata. Sejarah penting dalam hidupku dimulai dari sana. Dimana
ada kenangan indah yang menginspirasiku hingga saat ini. Waktu itu, tahun
terakhirku di sekolah menengah atas. Mungkin jika kebanyakan teman-temanku
merasakan deg-degan karena dua hal yaitu menanti pengumuman Ujian Nasional dan pengumuman
penerimaan mahasiswa untuk jalur PMDK , aku merasakan deg-degan yang teramat
sangat untuk beberapa hal yang menyesakkan setiap hela nafasku. Penantian
pengumuman Ujian Nasional dan jawaban apakah aku bisa melanjutkan kuliah dari
orang tuaku terutama Bapak. Pikiranku sering melayang pandang, menembus batas,
menciptakan sebuah sikap pesimis, dihantui rasa takut dan ketidakberdayaan.
Dalam benakku terlintas berbagai pertanyaan, apakah aku lulus Ujian ? Jika
lulus, apakah aku bisa melanjutkan kuliah ? Jika aku tidak dapat melanjutkan
kuliah, apa yang harus aku lakukan ? bekerjakah ? bisakah aku ? melakukan
pekerjaan rumah saja belum becus, menikah ? sanggupkah ? aku belum siap.
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu terus saja hinggap di otakku. Sampai pada
akhirnya aku menemukan jawabannya, Bapak tidak pernah melarangku kuliah. Beliau
mengizinkanku kuliah, tapi hanya saja tidak dapat menyanggupi biaya kuliahku.
Menurutnya aku harus realistis, ya..anak seorang sopir angkudes wajar kalau
tidak bisa melanjutkan kuliah. Tapi aku terus saja berusaha mencari cara agar
aku bisa melanjutkan kuliah. Aku mendaftar di berbagai perguruan tinggi negeri
dan berharap mendapat beasiswa. Singkat cerita orang tuaku tau aku mendaftar
kuliah dan mengikuti tes sana-sini. Namun usahaku terlihat belum ada hasilnya,
terhitung 7 kali gagal dan ditolak oleh perguruan tinggi.
Suatu malam
hatiku benar-benar hancur. Segalanya tampak sia-sia. Seperti tidak ada celah
untukku mewujudkan mimpi dan cita-cita. Hanya ingin merubah nasib dan membahagiakan
orang tuaku saja ternyata bukan suatu hal yang mudah. Mamah mendengar isak
tangisku yang sudah ku sembunyikan sekuat tenaga. Aku tidak berhasil, padahal
aku selalu punya cara tersendiri untuk menyembunyikan suara tangisku yaitu
menutupi wajah dengan bantal. Dengan suara yang lembut mamah mencoba
menenangkanku. Aku yakin saat itu perasaannya pun hancur. Mamah berusaha menghiburku.
Berulang kali meyakinkan bahwa aku pasti bisa melanjutkan kuliah. “Tidak ada
yang tidak mungkin jika kita mau berusaha dan berdo’a, yakinlah Allah akan
memberikan kita rezeki yang lebih, yakinlah kamu pasti bisa melanjutkan kuliah,
jika memang tidak bisa mamah yang akan menanggung semua biaya kuliah dengan
mencari pekerjaan tambahan, insyaallah mimpimu melanjutkan kuliah bisa tercapai,
kita hanya butuh kesabaran dan keikhlasan. Jadi orang jangan mudah dikalahkan
oleh keadaan, optimis ! berjuang ! semua ada jalan-Nya, jangan kalah sebelum
berperang” itulah nasihat-nasihat mamahku. Usaha mamah yang pertama adalah membujuk
Bapak agar menjual tanah satu-satunya hasil keringat mereka yang sebenarnya
adalah investasi masa depanku. Teringat kalimat mamahku dulu “ mamah sama Bapak
tidak bisa memberikan materi apa-apa, tapi ada hadiah kecil untukmu ketika
dewasa nanti yaitu sebidang tanah, kelak jika mamah dan Bapak sudah tiada kamu
bangun rumah disitu ya. Rumah yang sekarang bukan milik kita. Jadilah wanita
yang kuat dan tegar karena kamu itu sendiri, beda dengan mereka yang punya
kakak atau adik ”. Ingatan itu menambah hancur hatiku. Tanah yang luasnya tidak
seberapa hanya bisa membiayai pendidikan kuliah di awal saja, mungkin maksimal
hanya 2 semester, belum lagi untuk biaya hidup. Tapi keoptimisan mamahku berhasil
menampik semua itu, seperti virus yang menular, dengan sekejap rasa optimis itu
mengalir dalam darahku dan Bapakku. Entah kalimat mana yang membuat kami menjadi
optimis, yang jelas optimisme itu muncul dari hati yang penuh cinta. Penuh
kasih sayang, harapan, dan impian. Hati seorang Ibu yang hadirnya selalu
menghiasi hari-hari indah dalam perjalanan kita di dunia yang fana ini. Keoptimisan
itu pun akhirnya terjawab oleh waktu. Sikap optimis itu sampai sekarang terus
menginspirasi jejak-jejakku. Tidak akan ku sia-siakan sebuah kesempatan. Terus
berjuang memeluk mimpi-mimpi mamah yang juga mimpi-mimpiku. Mamah cintanya tak
pernah habis dimakan waktu. Aku tak ingin menunggu senja untuk
membahagiakannya. Aku sayang dan sangat
mencintai mamah.
“ Ya Allah,
ampunilah aku dan kedua orang tuaku dan limpahilah mereka kasih sayang
sebagaimana mereka dulu mentarbiyahku di waktu kecil ”
Eka Fitriana BK 5B







Subhanalloh,,,, Tulisan yg keren dan menginspirasi :)
BalasHapus