Kamis, 20 Desember 2012

My First Love Will Never Die



Sahabat, pernahkah kalian jatuh cinta? Bagaimana rasanya? Apakah jatuh cinta membuatmu bahagia? Apakah jatuh cinta menyita banyak waktumu? Waktu untuk memikirkan si-dia, memperhatikannya, atau mencari-cari di saat ia tak ada. Kalau kepada orang “lain” saja kita bisa seakrab dan se”care” itu, lalu bagaimana hubungan kita dengan orang-orang yang selama ini selalu ada di sekitar kita? Termasuk dengan Ibu, Mama, Mommy, Emak, Ummi, Simbok atau apalah panggilan sayangmu untuk beliau.

Nah loo, hayoo... kalau dengan si-dia saja berikrar bakal setia, akan selalu ada saat dia butuh, rela berpanas hujan demi ketemu, bahkan katanya sehidup semati (Serius nih? Hihi) lalu bagaimana dengan sikap kita terhadap wanita yang sudah susah payah mengandung kita selama sembilan bulan? Apa juga sudah se”manis” itu?

Kalau dengan si-dia kita bisa bilang I love you, I need you, I miss you, I can’t live without you, You’re my destiny, You like an angel, and the bla bla bla... Bagaimana dengan ungkapan sayang dan perhatian kita kepada Ibu yang sudah merawat kita sampai sebesar ini? Coba pikir kita lebih sering membuat Ibu bangga atau justru membuatnya kecewa?

Coba sahabat tanya ke Ibu masing-masing, kira-kira apa yang beliau inginkan kalau suatu saat nanti kita sudah berhasil jadi “orang”. Percaya deh sebenarnya beliau tidak mengharap diberi apa-apa kok oleh kita. Beliau cuma berharap kita bisa hidup bahagia, sukses dan memiliki kehidupan yang jaaauh lebih baik dari beliau. Cuma kadang kita yang tidak mengerti dan memahami maksud beliau itu. Disuruh belajar malah main games. Diingatkan jangan suka pulang malam malah banting pintu di hadapan beliau. Dinasihati malah Ibu dikatain ga gaul, katrok, ketinggalan zaman. Diperingatkan malah cetusnya menjawab, “Ah, Ibu tau apa sih!” Kalau minta apa-apa harus segera dituruti tapi kalau giliran disuruh bantuin Ibu kebiasaan bilang “nanti-nanti”. Dimasakin yang seadanya cuma bisa marah-marah sambil bilang, “enggak enak” dengan entengnya tanpa peduli perasaan Ibu yang sudah mempersiapkan susah payah.

Padahal kan tidak sulit juga sekedar bilang, ”Masakan Ibu enak.” Atau “Sayur lodeh Ibu tu tetep yang paling mak nyuss. Coba Pak Bondan ke sini, pasti dia juga bakal bilang begitu.” Atau cukup dengan berusaha makan apapun menu yang disediakan di rumah dengan niat menghargai Ibu. Jangan sampai nanti kalau sudah hidup mandiri dan jauh dari Ibu baru menyadari kalau seperti apapun kualitas masakan beliau tetap tidak ada yang bisa menandingi karena setiap hari masakan yang disajikan dibuat dengan hati dan disertai doa pengharapan. Warung mana coba yang rela masakin kita secara gratis tiap hari disertai doa pengharapan?

Ingat kapan terakhir kali memuji Ibu? Sudah lupa? Atau jangan-jangan malah tidak pernah? Masih ingat siapa orang yang dahulu setiap hari menyusui, menggendong, meninabobokan, mengganti popok kita yang basah karena ompol atau membuang kotoran kita? Dialah Ibu kita. Siapa lagi orang yang selalu menyayangi kita dan memanggil kita “Nduk cah ayu” Atau “Le cah bagus” Kalau bukan Ibu? Siapa lagi orang selain Ibu yang tetap menyanjung, membela, dan membanggakan kita walaupun dengan segala kekurangan dan kelemahan yang kita miliki seperti ini? Karena kita adalah darah dagingnya. Kita adalah semangat hidupnya. Kita adalah kekuatannya yang menjadikan ia siap sedia walaupun harus lelah dan sakit. Sebagai seorang anak, jika semua yang kita lakukan hanyalah memaksa Ibu untuk bersedih dan tidak pernah membuatnya senang. Maka harus seperti apa Ibu bersikap menghadapi kita? Sejak awal, Ibu sudah mempertaruhkan nyawanya demi kita. Segalanya Ibu usahakan agar kita bisa hidup.

Mungkin Ibu kita memang bukanlah orang yang sempurna. Beliau memiliki kekurangan juga, tapi ingatlah cintanya sungguh tidak akan pernah berkurang untuk kita. Muliakanlah beliau walaupun seperti apa keadaannya. Sempurnakanlah kekurangannya dengan cinta dan bakti kita kepadanya. Hormatilah beliau karena suatu saat kita juga akan menjadi Ayah dan Ibu!

Hari Ibu ini adalah momen yang indah untuk sekedar mengucapkan selamat, berterimakasih, menyampaikan ungkapan hati yang selama ini segan dihaturkan, atau memberikan sebentuk hadiah kecil bagi Ibu. Selamat Hari Ibu, para Ibu dan calon Ibu di seluruh dunia!

“Anata na kodomo de yokatta anata ga boku no haha de yokatta. Itsu made mo mo kawaranai zutto zutto kawaranai boku wa anata no ikiutsushi dakara. Zutto boku no haha de ite zutto genki de ite anata ni wa mada shigoto ga aru kara boku no oyakoukou uketoru shigoto ga.”

“Aku bersyukur aku adalah anakmu. Aku bersyukur kau adalah Ibuku. Dan itu tidak akan pernah berubah. Itu tidak akan pernah berubah untuk selamanya. Karena kau begitu mirip denganku. Jadilah ibuku untuk selamanya. Jadilah sehat untuk selamanya. Kau masih punya satu pekerjaan yang tersisa untuk dikerjakan. Dan itu adalah menerima cinta dan rasa hormat anakmu. Untukmu.” (Seamo-Mother)
Sekar R. Wibowo (2010) dan Chakti (2012)

2 komentar:

  1. Subhanalloh.. tulisan yg keren dan menggugah..
    Dkemas dengen bahasa yang santai dan renyah tapi mengena,,,, ^^siph..siph,,, Lanjutkan :)

    BalasHapus
  2. InsyaAllah.., semoga tetap istiqanah..

    BalasHapus