Jumat, 07 Desember 2012

Ibuku ... Penjual Nasi Rames 5 Hari Sekali, Sosok Penuh Optimisme !



Kalau tak pernah ada usapan sayang di waktu kecil, mungkin hari ini kita tak punya kekuatan jiwa untuk melangkah. Kalau tak ada kecupan lembutmu, mungkin tak akan lahir kesejukan hati untuk menata hidup dengan lebih baik. Tulang-tulang kita akan rapuh, jiwa kita tak mampu berdiri kokoh menghadapi tantangan hidup, dan dada kita sempit oleh sesaknya persoalan. Ibu .. ya .. beliaulah sosok penuh cinta dalam hidup kita, yang ikhlas berjaga di waktu malam ketika kita merengek kehausan. Setetes air susu Ibu mampu menjadi karunia penentram jiwa dan penguat tubuh kita hingga saat ini. Ibu adalah sosok luar biasa, sungguh sangat luar biasa. 


Jiwa dan raga ini terlahir dalam keluarga kecil yang sederhana. Bapakku adalah seorang sopir angkot, lebih tepatnya angkudes ( Angkutan Pedesaan ) karena jarak yang ditempuh untuk satu kali perjalanan tidaklah jauh, trayeknya pun hanya antar pedesaan. Sedangkan Ibuku sebenarnya hanya Ibu rumah tangga biasa, tapi untuk menopang kehidupan keluarga kami, Ibuku berjualan nasi rames yang buka praktek hanya 5 hari sekali. Mungkin ada yang bertanya-tanya mengapa hanya 5 hari sekali? jawabannya adalah karena setiap 5 hari sekali di depan rumah kami ada pasar, orang menyebutnya “ Pasar Wage ”. Mamahku ( seperti itulah panggilan sayangku untuk Ibuku ) berjualan nasi rames di depan rumah. Dengan warung yang sederhana dan perabotan yang seadanya. Tapi kami sekeluarga berusaha untuk tidak mengeluh atas keadaan tersebut. Biarpun kata orang hidup berkekurangan, tapi kami menganggap hidup kami berkecukupan. Begitulah kedua orang tuaku mengajarkanku untuk senantiasa bersyukur atas rezeki-Nya. Karena terkadang ada saja rezeki yang Allah berikan pada kami jika diiringi dengan DUIT (Do’a, Usaha, Ikhlas, Tawakal ). 

Ada sepenggal kisah dari hidupku yang semoga menginspirasi. Tidak ada maksud menggurui, sekedar berbagi pengalaman dan pelajaran hidup. 

Tahun  2010 merupakan tahun yang tidak akan pernah aku lupakan, tahun yang rasanya seperti gado-gado. Sedih, kecewa, bingung, dilematis, hancur, mengharukan, dan yang lainnya campur aduk jadi satu lengkap dengan bumbu-bumbu air mata. Sejarah penting dalam hidupku dimulai dari sana. Dimana ada kenangan indah yang menginspirasiku hingga saat ini. Waktu itu, tahun terakhirku di sekolah menengah atas. Mungkin jika kebanyakan teman-temanku merasakan deg-degan karena dua hal yaitu menanti pengumuman Ujian Nasional dan pengumuman penerimaan mahasiswa untuk jalur PMDK , aku merasakan deg-degan yang teramat sangat untuk beberapa hal yang menyesakkan setiap hela nafasku. Penantian pengumuman Ujian Nasional dan jawaban apakah aku bisa melanjutkan kuliah dari orang tuaku terutama Bapak. Pikiranku sering melayang pandang, menembus batas, menciptakan sebuah sikap pesimis, dihantui rasa takut dan ketidakberdayaan. Dalam benakku terlintas berbagai pertanyaan, apakah aku lulus Ujian ? Jika lulus, apakah aku bisa melanjutkan kuliah ? Jika aku tidak dapat melanjutkan kuliah, apa yang harus aku lakukan ? bekerjakah ? bisakah aku ? melakukan pekerjaan rumah saja belum becus, menikah ? sanggupkah ? aku belum siap. Pertanyaan-pertanyaan semacam itu terus saja hinggap di otakku. Sampai pada akhirnya aku menemukan jawabannya, Bapak tidak pernah melarangku kuliah. Beliau mengizinkanku kuliah, tapi hanya saja tidak dapat menyanggupi biaya kuliahku. Menurutnya aku harus realistis, ya..anak seorang sopir angkudes wajar kalau tidak bisa melanjutkan kuliah. Tapi aku terus saja berusaha mencari cara agar aku bisa melanjutkan kuliah. Aku mendaftar di berbagai perguruan tinggi negeri dan berharap mendapat beasiswa. Singkat cerita orang tuaku tau aku mendaftar kuliah dan mengikuti tes sana-sini. Namun usahaku terlihat belum ada hasilnya, terhitung 7 kali gagal dan ditolak oleh perguruan tinggi.

Suatu malam hatiku benar-benar hancur. Segalanya tampak sia-sia. Seperti tidak ada celah untukku mewujudkan mimpi dan cita-cita. Hanya ingin merubah nasib dan membahagiakan orang tuaku saja ternyata bukan suatu hal yang mudah. Mamah mendengar isak tangisku yang sudah ku sembunyikan sekuat tenaga. Aku tidak berhasil, padahal aku selalu punya cara tersendiri untuk menyembunyikan suara tangisku yaitu menutupi wajah dengan bantal. Dengan suara yang lembut mamah mencoba menenangkanku. Aku yakin saat itu perasaannya pun hancur. Mamah berusaha menghiburku. Berulang kali meyakinkan bahwa aku pasti bisa melanjutkan kuliah. “Tidak ada yang tidak mungkin jika kita mau berusaha dan berdo’a, yakinlah Allah akan memberikan kita rezeki yang lebih, yakinlah kamu pasti bisa melanjutkan kuliah, jika memang tidak bisa mamah yang akan menanggung semua biaya kuliah dengan mencari pekerjaan tambahan, insyaallah mimpimu melanjutkan kuliah bisa tercapai, kita hanya butuh kesabaran dan keikhlasan. Jadi orang jangan mudah dikalahkan oleh keadaan, optimis ! berjuang ! semua ada jalan-Nya, jangan kalah sebelum berperang” itulah nasihat-nasihat mamahku. Usaha mamah yang pertama adalah membujuk Bapak agar menjual tanah satu-satunya hasil keringat mereka yang sebenarnya adalah investasi masa depanku. Teringat kalimat mamahku dulu “ mamah sama Bapak tidak bisa memberikan materi apa-apa, tapi ada hadiah kecil untukmu ketika dewasa nanti yaitu sebidang tanah, kelak jika mamah dan Bapak sudah tiada kamu bangun rumah disitu ya. Rumah yang sekarang bukan milik kita. Jadilah wanita yang kuat dan tegar karena kamu itu sendiri, beda dengan mereka yang punya kakak atau adik ”. Ingatan itu menambah hancur hatiku. Tanah yang luasnya tidak seberapa hanya bisa membiayai pendidikan kuliah di awal saja, mungkin maksimal hanya 2 semester, belum lagi untuk biaya hidup. Tapi keoptimisan mamahku berhasil menampik semua itu, seperti virus yang menular, dengan sekejap rasa optimis itu mengalir dalam darahku dan Bapakku. Entah kalimat mana yang membuat kami menjadi optimis, yang jelas optimisme itu muncul dari hati yang penuh cinta. Penuh kasih sayang, harapan, dan impian. Hati seorang Ibu yang hadirnya selalu menghiasi hari-hari indah dalam perjalanan kita di dunia yang fana ini. Keoptimisan itu pun akhirnya terjawab oleh waktu. Sikap optimis itu sampai sekarang terus menginspirasi jejak-jejakku. Tidak akan ku sia-siakan sebuah kesempatan. Terus berjuang memeluk mimpi-mimpi mamah yang juga mimpi-mimpiku. Mamah cintanya tak pernah habis dimakan waktu. Aku tak ingin menunggu senja untuk membahagiakannya.  Aku sayang dan sangat mencintai mamah.

“ Ya Allah, ampunilah aku dan kedua orang tuaku dan limpahilah mereka kasih sayang sebagaimana mereka dulu mentarbiyahku di waktu kecil ”

Eka Fitriana BK 5B

1 komentar: